Kamis, 25 Juni 2009

Apakah Anda Perlu Suplemen




By: Ahmad Sofiullah, MEDIA INDONESIA Minggu 7 Desember 2008.
Jangan sembarangan mengonsumsi suplemen. Salah-salah justru sakit bukan sehat.

‘Orang modern’ sering beranggapan suplemen sebagai hal wajib untuk menjaga kesehatan. Tidak mengherankan jika kebutuhan terhadap suplemen akhir-akhir ini terus meningkat. Promosi lewat iklan juga gencar dilakukan dengan tawaran khasiat cespleng.

Coba tengok di apotek atau took-toko obat pastilah berderet berbagai jenis suplemen. Mulai dari aneka vitamin untuk menjaga stamina, penambah kecerdasan, membantu pikiran supaya lebih focus, sampai obat kuat.

“Terus terang, saya terkadang membeli vitamin karena tertarik membaca berbagai manfaat yang ditawarkan. Apalagi jam kerja saya tidak menentu, bisa sampai larut malam,” kata Lamiza, 33, karyawan sebuah perusahaan swasta yang mengaku setiap hari selalu mengonsumsi dua butir suplemen.

Sebenarnya, seberapa penting suplemen dikonsumsi? Jenis yang cocok dengan kondisi tubuh kita? Ahli gizi dari Rs. Melinda Hospital Bandung, Dr Johanes Chandrawinata SpGK, mengingatkan tidak semua suplemen berguna atau diperlukan tubuh. Karena itu, sebaiknya dikonsultasikan dulu sehingga bisa diberikan suplemen yang cocok dengan kondisi orang bersangkutan.

Johanes menjelaskan ada kalanya tubuh memerlukan suplemen tertentu, bahkan diperlukan sejak dalam kandungan. Misalnya omega-3 yang dapat membantu perkembangan otak janin.” Jenis ini bahkan diperlukan sampai usia sekitar 3,5 tahun,” terangnya.

Mengapa? Sebab pada masa itu perkembangan otak anak sangat pesat sehingga memerlukan asupan gizi yang cukup untuk tumbuh kembang. Sedangkan suplemen kalsium, seng. dan protein, menurut Johanes, diperlukan bila anak sulit makan.

Selain anak-anak, disebutkan pula kebutuhan suplemen pada perempuan usia subur. Mereka dianjurkan mengonsumsi asam folat untuk mengurangi risiko cacat tabung saraf pada janin apabila ia hamil. Sementara itu, lanjut Johanes, perempuan menopause perlu mengonsumsi suplemen kalsium. Pasalnya, mereka rentan terkena osteoporosis sehingga asupan kalsium perlu diperhatikan.

Johanes berpendapat, pria yang melakukan olahraga berat dan mereka yang bekerja di malam hari boleh jadi memerlukan suplemen jenis vitamin B kompleks untuk mendukung metabolisme tubuhnya yang tinggi. Bagi orang yang sedang sakit, perlu mendapat asupan vitamin C, B kompleks dan seng untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Peningkatan daya tahan tubuh dianggap penting karena banyak penyakit yang bisa menyerang saat kondisi lemah. Di antaranya flu(common cold).

Lalu apakah ada dampaknya jika seseorang mengonsumsi suplemen jenis vitamin secara berlebihan? Dengan tegas Johanes menjawab ada. Kelebihan vitamin dalam dosis tinggi dapat menimbulkan gangguan kesehatan, misalnya jika seseorang mengalami kelebihan vitamin A5, bisa berakibat nafsu makan menurun, perut mual, dan kulit menjadi kering.

Bahkan pada kasus kelebihan vitamin E (asupan lebih dari 400IU per hari) bisa berpotensi menyebabkan kematian. Di lain pihak, konsumsi vitamin C berlebihan juga bisa meningkatkan risiko terkena batu ginjal dan tukak lambung.

Pola makan sehat

Dalam kesempatan berbeda, Guru Besar IPB yang juga Penasihat Pergizi Pangan Prof Hidayat Syarief mengemukakan pendapat sedikit berbeda. Dia menegaskan, orang dalam kondisi sehat sebaiknya tidak perlu mengonsumsi suplemen. Sebab katanya, kebutuhan gizi sudah terpenuhi dari konsumsi makan. Tentu saja orang yang dimaksud harus mempunyai pola makan sehat.

Hidayat menegaskan suplemen lebih bermanfaat jika dikonsumsi para lanjut usia(lansia) dan mereka yang sedang menjalani masa penyembuhan.” Mereka membutuhkan suplemen karena kemampuan mencerna makanan sedang dalam kondisi yang tidak maksimal,” jelasnya.

Spesialis gizi klinik RS Medistra, dr Cindiawaty Pudjiadi MARS, MS, SpGK, juga berpendapat bahwa konsumsi suplemen lebih diterapkan pada orang yang sedang sakit atau dalam masa penyembuhan. Tapi jika kondisi sehat dan asupan makanan cukup, sebaiknya tak perlu mengonsumsi suplemen.

TIPS

• Sebelum mengonsumsi suplemen, konsultasikan dulu dengan dokter atau ahli gizi. Penting untuk memastikan jenis suplemen apa yang dibutuhkan tubuh.

• Sebaiknya pilih suplemen tanpa bahan pengawet atau paling tidak pastikan suplemen tersebut mengandung bahan pengawet yang aman.

• Jangan termakan iklan ataupun promosi suplemen di media massa. Selidiki terlebih dahulu bahan dan bagaimana proses pembuatanya.

• Apabila terjadi reaksi atau efek tertentu pada tubuh setelah mengonsumsi suplemen, segera hentikan dan konsultasikan dengan dokter.

• Harga suplemen yang lebih mahal bukan jaminan kualitasnya lebih baik. Suplemen yang terbuat dari bahan-bahan alami relative lebih aman untuk dikonsumsi.

• Perhatikan dengan teliti tanggal kadaluwarsa produk suplemen dan izin Badan POM.

• Bila mengonsumsi suplemen, pilihlah dosis sekitar 100% angka kecukupan gizi (AKG) atau recommended dietary intakes (RDI). Jangan yang dosisnya besar (megadose). Hal itu penting untuk menghindari efek kelebihan asupan yang dapat berakibat buruk bagi kesehatan.

Kamis, 21 Juni 2007

Krisis Ksehatan (Health Crisis)



Persoalan kehidupan yang dihadapi masyarakat modern sangat rentan akan timbulnya penyakit kronis. Kesibukan, polusi, kontaminasi, radiasi ( matahari dengan lapisan ozon tipis), kelelahan, kekenyangan, kesenangan, kelaparan, stress, dan berbagai penyakit yang ditimbulkannya, akan berakibat tubuh mengeluarkan oksigen radical atau radical bebas yang belebihan.
Makanan yang merupakan kebutuhan kita sehari-hari untuk menunjang aktivitas kerja, teryata dapat mempengaruhi dan memberikan efek negatif tehadap tubuh kita, pola makan yang sehat cukup nutrisi serta mengandung vitamin tidaklah cukup untuk memenuhi semua zat gizi yang diperlukan oleh tubuh kita.
Dr. Lester Packer, dikenal sebagai Bapak Antioxidant dan peneliti antioxidant terkemuka di dunia, menyatakan bahwa sangat sulit bagi kita untuk memperoleh semua zat gizi yang penting melalui makanan harian saja. Apabila kita tidak memiliki zat gizi yang cukup, tubuh kita tidak dapat memberikan sistem pertahanan tubuh yang optimal. Publikasi dalam journal of American Medical Association ( JAMA ) yang terbit bulan juni 2002 menyatakan bahwa jika tubuh kita memiliki kadar antioxidant yang rendah, seperti vitamin A, C, dan E tubuh kita akan mudah terserang oleh radicals bebas dan hal ini akan memberikan efek negatif pada tubuh kita . Meskipun demikian kebanyakan orang tidak memperoleh nutrisi yang cukup hanya dari makanan saja. Oleh sebab itu penambahan supplement sangat dibutuhkan. Selain itu dengan mengetahui indeks Antioxidant Tubuh, kita dapat mengetahui keadaan kesehatan kita, yang memungkinkan kita untuk dapat mengukur pola makan, gaya hidup kita dan penambahan supplement.

Waspadai Radikal Bebas (Beware of Free Radicals)



Free Radicals (Radikal bebas) kini telah menjadi topic penelitian pada akhir abad ini bersama super oxide dismutasi (SOD) karena akibat radicals bebas ini menimbulkan banyak masalah kesehatan. Radicals bebas itu sendiri adalah bahan kimia yang secara alamiah terdapat pada tanaman, binatang, dan manusia. Fungsinya mencegah terjadinya kerusakan yang diakibatkan oleh virus, bakteri serta bahan-bahan lain (asing) yang menyerang sel tubuh. Produksi yang berlebihan akan menyerang sel tubuh sendiri dengan cara yang sama seperti menyerang bakteri dan benda asing. Perbuatan si radicals bebas ini berakibat destruktif bagi molekul sel lain yang elektronya dirampas. Parahnya, aksi perampasan electron itu menimbulkan reaksi berantai sehingga radicals bebas terlahir semakin banyak. Radicals bebas merusak molekul makro pembentuk sel, yaitu, protein, karbohidrat (polisakarida), lemak, dan deoxyribo nucleic acid (DNA). Akibatnya, sel menjadi rusak, mati, atau bermutasi. Peristiwa itu menjadi salah satu penyebab berbagai penyakit degenaratif seperti kanker dan penuaan sel. Pada sel kulit, misalnya radicals bebas akan merusak senyawa lemak pada membrane sel. Lalu kulit kehilangan ketegangannya (rigor) dan muncullah keriput. Setiap hari kita terpapar radicals bebas. Radicals bebas adalah molekul yang tidak stabil yang mencuri atau ”menangkap” elektron dari molekul yang lain dan menyerang tubuh kita. Banyak efek fisik yang kita sebut “penuaan” adalah hasil dari radicals bebas, yang merusak jaringan kulit, pembuluh darah dan otak.
Peran jahat radicals bebas ini bukan berarti ia boleh dienyahkan. Sebab akhirnya para ahli menemukan, radicals bebas dalam kadar tertentu justru diperlukan untuk pertahanan tubuh, sel darah putih (lekosit) akan menghancurkan dan memakan kuman dengan bantuan si radicals bebas. Bagaimana bisa muncul radicals bebas ini? Radicals bebas muncul sebagai konsekuensi dari adanya kehidupan itu sendiri. Setiap mahluk hidup perlu enegi untuk bertahan hidup. Mahluk hidup, termasuk manusia, akan selalu memproduksi radicals bebas sebagai produk samping dari proses pembentukan energi. Energi itu diperoleh dari proses metabolisme dengan mengoksidasi (membakar) zat-zat makanan, seperti karbohidrat, lemak, dan protein. Zat-zat itu akan dikonversi menjadi senyawa pengikat energi atau Adenosin TriPhospat (ATP) melalui proses metabolisme dengan bantuan oksigen. Dalam proses oksidasi itulah radicals bebas (ROS),yaitu anion superoksida dan hidroksil radicals turut terproduksi. Selain lahir dari proses metabolisme, radicals bebas juga muncul pada setiap kejadian pembakan, misalnya merokok, memasak, juga aktivitas pembakaran bahan bakar pada mesin dan kendaraan bermotor. Ketika sinar ultraviolet menerpa suatu benda terus-menerus, electron dan atom benda tersebut akan meloncat dari orbitnya, dan terciptalah radical bebas. Singkatnya radical bebas akan selalu bertebaran dimana-mana. Api adalah radical bebas yang dapat dilihat dengan mata. Layaknya radicals bebas, sifat api pun sangat reaktif dan sulit dikendalikan jika merjalela.


Penelitian membuktikan bahwa radicals bebas berkaitan erat dengan lebih dari 200 macam penyakit. Akibat dari keaktifannya yang alami, radical-radical bebas secara kimiawi bereaksi dengan sel dan merusak sel DNA yang ada dalam tubuh kita. Reaksi-reaksi ini mempercepat penuaan dan meningkatkan kemungkinan terjadinya kanker, juga timbulnya penyakit kulit, jantung, hati, paru-paru, dan penyakit yang berkaitan dengan system saraf.

Dr. David Chang-Hung Chung
Dokter Senior
Departemen Radiasi Onkologi
Mackay Memorial Hospital Taiwan

Pertahanan Tubuh (Antioxidant)


Antioxidant adalah pertahanan utama tubuh kita untuk melawan serangan radicals bebas. Antioxidant adalah molekul-molekul yang stabil yang secara bebas membagi elektronnya dan menghentikan reaksi berantai dari radicals bebas. Tubuh kita secara alami menghasilkan beberapa antioxidant. Meskipun demikian, penelitian terbaru menunjukan bahwa pada level-level tersebut, mungkin tidak memberikan perlindungan antioxidant yang cukup untuk melawan serangan radicals bebas. Supaya radicals bebas tidak merajalela, tubuh dengan sendirinya spontan memproduksi zat antioxidantnya. Antioxidant yang diproduksi dari dalam tubuh (endogen) berupa tiga enzim yaitu, superoksida dismutase (SOD), glutation peroksidase (GSH Px), katalase, serta non enzim, yaitu senyawa protein kecil glutation. Ketiga enzim dan senyawa glutation itu bekerja menetralkan radicals bebas. Pekerjaannya itu dibantu oleh asupan antioxidant dari luar (eksogen) yamg berasal dari bahan makanan. Misalnya vitamin E, C, Beta-carotene dan senyawa flavonoid yang diperoleh dari tumbuhan. Dalam proses melumpuhkan radicals bebas, peran antioxidant eksogen sangat sistematis. Pertama-tama vitamin E akan menangkap (scavenging) radicals bebas malangnya, vitamin E itu lalu berubah menjadi vitamin E radicals sehingga perlu pertolongan vitamin C. Apaboleh buat, setelah menangkap vitamin E radicals, si vitamin C malah ikut menjadi vitamin C radicals juga. Akhirnya, barulah glutation yang mampu menetralkan vitamin C radicals menjadi senyawa yang lebih kalem tanpa menjadikan dirinya turut radicals. Lalu perlukah kita menambah supplement antioxidant untuk mengatasi keliaran si radicals bebas ? jawaban akhirnya akan normative. Supplement antioxidant yang popular di pasaran, yaitu vitamin C, E dan beta-carotene. Namun, fakta perlu diketahui masih sulit memastikan berapa komposisi yang seimbang antara radicals bebas dan antioxidant didalam tubuh. Dengan demikian, otomatis dosis supplement antioxidant yang tepat juga belum dapat dipastikan, Sementara beberapa study menunjukan kelebihan antioxidant justru merugikan hingga membahayakan. Selama asupan makanan cukup baik dan menjauhi pola hidup tak sehat. Supplement makanan seperti multivitamin sama sekali tidak dibutuhkan. Supplement dibutuhkan hanya ketika seseorang menderita luka bakar serius, infeksi yang luas, aktivitas fisik berat, atau stress yang hebat. Orang yang merokok atau, pekerjaannya harus diterpa polusi dan sinar matahari terus-menerus, seperti polisi lalu lintas, juga memerlukan supplement tersebut. Asumsinya, asupan makanan yang bervitamin antioxidant tidak cukup dibandingkan terpaan radicals bebas. Dengan demikian, tubuh orang itu dalam kondisi stress oksidatif atau komposisi radicals bebasnya lebih banyak. Supplement yang paling utama dibutuhkan orang-orang tersebut adalah vitamin C dengan dosis antara 100-500 miligram perhari. Soal dosis memang masih kontroversi. Sebab, jika vitamin C yang diasup ternyata berlebihan bagi tubuh, vitamin C tersebut justru menjadi vitamin C radicals yang sifatnya sama dengan radicals bebas. Glutation tidak lagi sempat menetralkannya karena jumlahnya yang berlebihan. Memang, sebagian yang berlebih itu dapat larut bersama urine, tetapi potensi radicals tetap ada. Hal yang sama berlaku pada vitamin E, yang jika berlebihan dapat menjadi vitamin E radicals. Ada pula teori yang mengatakan, kelebihan vitamin E dapat mengganggu proses pembekuan darah jika terjadi luka. Selain itu, vitamin E akan terakumulasi di jaringan tubuh yang mengandung lemak seperti liver dan berpotensi meracuni liver. Suatu penelitian Antioxidant di Amerika Serikat dilakukan pada orang-orang yang merokok dan sekaligus menderita kanker paru. Sebagian dari mereka diberi supplement beta-carotene dosis tinggi, sebagian yang lain diberi placebo (pil kosong). Dugaan awal, kelompok yang diberi beta-carotene sel kankernya dapat terkendali. Yang terjadi cukup mengejutkan, kelompok yang diberi beta-carotene justru menunjukan perkembangan sel kanker. Pemberian beta-carotene itu lantas segera dihentikan. Selama ini dipasaran supplement vitamin E dan C umumnya dijual dalam dosis relative tinggi per tabletnya, bahkan beberapa merek vitamin C berdosis hingga 1000mg per tabletnya. Padahal, kecukupan gizi vitamin C perhari hanya 60mg. Untuk vitamin E, cukup 8-10 IU perhari. Kadar tersebut cukup terpenuhi dari bahan makanan sehari-hari. Vitamin C banyak terkandung dalam jambu klutuk, jeruk, atau kiwi. Vitamin E bisa diperoleh dari sayur-sayuran seperti kecambah, kedelai, atau kuning telur. Dengan demikian, orang diluar kondisi yang berpotensi stress oksidatif praktis tidak dianjurkan mengkonsumsi supplement antioxidants. Seabaiknya, sangat dianjurkan berusaha mengkonsumsi makanan cukup gizi, sebab asupan antioxidant dari makanan sangat kecil resiko berlebihan. Memang klasik, tetapi empat sehat lima sempurna memang jawabanya. Konsumen harus pandai mengukur kondisi fisiknya sendiri. Supplement baru dianjurkan ketika tubuh mendapat beban fisik yang cukup berat, atau terpaksa berada dikondisi yang sangat terpolusi. Artinya, mengkonsumsi supplement tidak dianjurkan setiap hari, melainkan tergantung pada kondisi yang dihadapi seseorang.


Jumlah antioxidant-antioxidant penting yang dapat bertahan dalam tubuh yang beragam jenis adalah sebanding dengan batas rata-rata usia hidup mereka.

Dr. Richard Cutler
Ilmuwan peneliti di National Institut on Aging
Institut Kesehatan Nasional

“How to measure the level of Antioxidant in your body ?”

Bagaimana Mengukur Keadaan Antioxidant Tubuh Anda ?

Pharmanex BioPhotonic Scanner adalah peralatan non-invasif pertama di dunia yang tidak membahayakan yang secara efektif mengukur tingkat antioxidant yang terdapat didalam kuilit anda. Cukup letakan tangan anda dibagian depan dari sinar laser biru yang berenergi rendah, Anda dapat mengukur tingkat carotenoids kulit Anda dan medapatkan Nilai Carotenoids Kulit Anda. Anda akan semakin bisa untuk memperbaiki kesehatan Antioxidant Anda melalui makanan bergizi dan supplement


Sistem Pertahanan Antioxidant Anda (The System of Antioxidant Resistance)


Sekelompok antioxidant yang lengkap harus bekerja sama untuk memberikan perlindungan yang efektif terhadap racun-racun dan terhadap kerusakan dari radicals bebas. Pendekatan yang menyeluruh ini disebut dengan “Sistem Pertahan Antioxidant“. Sistem pertahanan antioxidant dibentuk dengan kombinasi antioxidant instrinsik dan antioxidant ekstrinsik. Antioxidant intrinsik seperti carotenoids yang disintesa di dalam tubuh kita, sedangkan antioxidant ekstrinsik tidak dapat dibuat oleh tubuh kita dan harus didapatkan dari makanan dan supplemetasi.


"Pharmanex BioPhotonic Scanner"

Pharmanex BioPhotonic Scanner diciptakan berdasarkan metode optic yang dikenal dengan Resonansi Spektroskopi Raman. Teknologi ini sudah digunakan selama bertahun-tahun dalam penelitian laboratorium dan baru digunakan untuk penyelidikan carotenoids di dalam system biologis. Teknologi ini telah mendapatkan 2 hak paten di Amerika dan secara global telah mendapatkan 8 hak paten. Scanner ini mengukur tingkat carotenoids di dalam jaringan tubuh manusia pada permukaan kulit dengan menggunakan sinyal optic. Sinyal ini mengidentifikasi struktur molekul yang unik dari carotenoids sehingga menghasilkan pengukuran tanpa gangguan dari molekul zat lain dan menunjukan Nilai carotenoids Kulit. Phamanex mendapatkan hak paten teknologi eksklusif. Sehingga dapat digunakan untuk mengukur nilai Carotenoids Kulit dalam lingkungan non-medis.

“Setiap orang sebaiknya menggunakan Pharmanex BioPhotonic Scanner untuk mengukur Nilai Carotenoids Kulit yang optimal. Sekali Anda mendapatkan nilai Anda, berusahalah untuk meningkatkan dan menjaganya dengan mengkonsumsi makanan sehat yang kaya akan buah-buahan, sayur-sayuran dan supplement vitamin”.

Lester Packer, Ph.D
Ilmuwan Peneliti Antioxidant terkemuka didunia

Apa artinya Nilai Carotenoids kulit Anda ? (What is the meaning of your skin Carotenoids ?)


Carotenoids adalah Antioxidant yang efektif. Pengukuran tingkat Carotenoids kulit dengan menggunakan Pharmanex BioPhotonic Scanner adalah petunjuk yang berguna dan mudah untuk mengetahui kadar Carotenoids serta memberikan biomarker yang akurat dan dapat dipercaya terhadap keadaan Antioxidant tubuh Anda Area warna Nilai Carotenoids Kulit membantu Anda untuk menentukan apakah anda sedang mengkonsumsi makanan bergizi dengan kandungan Antioxidant dalam jumlah yang mencukupi. Tidak seperti biomarker-biomarker lainnya, Nilai Carotenoids Kulit tidak dapat memprediksi atau mendiagnosa penyakit.

"Height of Carotenoids is the vital Biomarker and an index of your bodys antioxidant"

Tingkat Carotenoids adalah Biomarker Terpenting dari indeks antioxidants tubuh.

Penelitian ilmiah terbaru menunjukan bahwa Carotenoids adalah indeks terpenting dari system pertahanan antioxidant tubuh. Sebuah penelitian yang melibatkan sekitar 2.670 orang dewasa menunjukan bahwa dengan menggunakan kadar Carotenoids untuk menilai kemampuan pertahanan antioxidant lebih baik dibandingkan dengan menggunakan makanan bergizi yang lain seperti vitamin E atau glutathione. Di samping itu, kandungan carotenoids di dalam jaringan kulit lebih stabil dibandingkan di dalam darah. BioPhotonic Scanner mengukur tingkat carotenoids didalam jaringan kulit, ini tidak hanya menujukan indeks pertahanan tubuh tetapi juga menggambarkan kebiasaan makan dan gaya hidup seseorang.

(Svilaas,2004; Bernstein, 1998, 2002; Gellermann 2002a; Zhao, 2003, Ermakov, 2004b; Mayne etal,2003, YCC News release,2003).