
By: Ahmad Sofiullah, MEDIA INDONESIA Minggu 7 Desember 2008.
Jangan sembarangan mengonsumsi suplemen. Salah-salah justru sakit bukan sehat.
‘Orang modern’ sering beranggapan suplemen sebagai hal wajib untuk menjaga kesehatan. Tidak mengherankan jika kebutuhan terhadap suplemen akhir-akhir ini terus meningkat. Promosi lewat iklan juga gencar dilakukan dengan tawaran khasiat cespleng.
Coba tengok di apotek atau took-toko obat pastilah berderet berbagai jenis suplemen. Mulai dari aneka vitamin untuk menjaga stamina, penambah kecerdasan, membantu pikiran supaya lebih focus, sampai obat kuat.
“Terus terang, saya terkadang membeli vitamin karena tertarik membaca berbagai manfaat yang ditawarkan. Apalagi jam kerja saya tidak menentu, bisa sampai larut malam,” kata Lamiza, 33, karyawan sebuah perusahaan swasta yang mengaku setiap hari selalu mengonsumsi dua butir suplemen.
Sebenarnya, seberapa penting suplemen dikonsumsi? Jenis yang cocok dengan kondisi tubuh kita? Ahli gizi dari Rs. Melinda Hospital Bandung, Dr Johanes Chandrawinata SpGK, mengingatkan tidak semua suplemen berguna atau diperlukan tubuh. Karena itu, sebaiknya dikonsultasikan dulu sehingga bisa diberikan suplemen yang cocok dengan kondisi orang bersangkutan.
Johanes menjelaskan ada kalanya tubuh memerlukan suplemen tertentu, bahkan diperlukan sejak dalam kandungan. Misalnya omega-3 yang dapat membantu perkembangan otak janin.” Jenis ini bahkan diperlukan sampai usia sekitar 3,5 tahun,” terangnya.
Mengapa? Sebab pada masa itu perkembangan otak anak sangat pesat sehingga memerlukan asupan gizi yang cukup untuk tumbuh kembang. Sedangkan suplemen kalsium, seng. dan protein, menurut Johanes, diperlukan bila anak sulit makan.
Selain anak-anak, disebutkan pula kebutuhan suplemen pada perempuan usia subur. Mereka dianjurkan mengonsumsi asam folat untuk mengurangi risiko cacat tabung saraf pada janin apabila ia hamil. Sementara itu, lanjut Johanes, perempuan menopause perlu mengonsumsi suplemen kalsium. Pasalnya, mereka rentan terkena osteoporosis sehingga asupan kalsium perlu diperhatikan.
Johanes berpendapat, pria yang melakukan olahraga berat dan mereka yang bekerja di malam hari boleh jadi memerlukan suplemen jenis vitamin B kompleks untuk mendukung metabolisme tubuhnya yang tinggi. Bagi orang yang sedang sakit, perlu mendapat asupan vitamin C, B kompleks dan seng untuk meningkatkan daya tahan tubuh.
Peningkatan daya tahan tubuh dianggap penting karena banyak penyakit yang bisa menyerang saat kondisi lemah. Di antaranya flu(common cold).
Lalu apakah ada dampaknya jika seseorang mengonsumsi suplemen jenis vitamin secara berlebihan? Dengan tegas Johanes menjawab ada. Kelebihan vitamin dalam dosis tinggi dapat menimbulkan gangguan kesehatan, misalnya jika seseorang mengalami kelebihan vitamin A5, bisa berakibat nafsu makan menurun, perut mual, dan kulit menjadi kering.
Bahkan pada kasus kelebihan vitamin E (asupan lebih dari 400IU per hari) bisa berpotensi menyebabkan kematian. Di lain pihak, konsumsi vitamin C berlebihan juga bisa meningkatkan risiko terkena batu ginjal dan tukak lambung.
Pola makan sehat
Dalam kesempatan berbeda, Guru Besar IPB yang juga Penasihat Pergizi Pangan Prof Hidayat Syarief mengemukakan pendapat sedikit berbeda. Dia menegaskan, orang dalam kondisi sehat sebaiknya tidak perlu mengonsumsi suplemen. Sebab katanya, kebutuhan gizi sudah terpenuhi dari konsumsi makan. Tentu saja orang yang dimaksud harus mempunyai pola makan sehat.
Hidayat menegaskan suplemen lebih bermanfaat jika dikonsumsi para lanjut usia(lansia) dan mereka yang sedang menjalani masa penyembuhan.” Mereka membutuhkan suplemen karena kemampuan mencerna makanan sedang dalam kondisi yang tidak maksimal,” jelasnya.
Spesialis gizi klinik RS Medistra, dr Cindiawaty Pudjiadi MARS, MS, SpGK, juga berpendapat bahwa konsumsi suplemen lebih diterapkan pada orang yang sedang sakit atau dalam masa penyembuhan. Tapi jika kondisi sehat dan asupan makanan cukup, sebaiknya tak perlu mengonsumsi suplemen.
TIPS
• Sebelum mengonsumsi suplemen, konsultasikan dulu dengan dokter atau ahli gizi. Penting untuk memastikan jenis suplemen apa yang dibutuhkan tubuh.
• Sebaiknya pilih suplemen tanpa bahan pengawet atau paling tidak pastikan suplemen tersebut mengandung bahan pengawet yang aman.
• Jangan termakan iklan ataupun promosi suplemen di media massa. Selidiki terlebih dahulu bahan dan bagaimana proses pembuatanya.
• Apabila terjadi reaksi atau efek tertentu pada tubuh setelah mengonsumsi suplemen, segera hentikan dan konsultasikan dengan dokter.
• Harga suplemen yang lebih mahal bukan jaminan kualitasnya lebih baik. Suplemen yang terbuat dari bahan-bahan alami relative lebih aman untuk dikonsumsi.
• Perhatikan dengan teliti tanggal kadaluwarsa produk suplemen dan izin Badan POM.
• Bila mengonsumsi suplemen, pilihlah dosis sekitar 100% angka kecukupan gizi (AKG) atau recommended dietary intakes (RDI). Jangan yang dosisnya besar (megadose). Hal itu penting untuk menghindari efek kelebihan asupan yang dapat berakibat buruk bagi kesehatan.











